Jumat, 17 Oktober 2014
Pendakian Mt.Lawu (3265 mdpl)
12 Maret
2014, berangkat bersama rombongan dari ponorogo jam 8 pagi dan sampai ke cemoro
sewu sekitar jam 12 siang. Siang hari itu tak seperti biasanya, kabut tebal
menyelemuti cemoro sewu dan mulai gerimis. Tapi Alhamdulillah sekitar jam 1
kabut sudah mulai hilang dan kami pun segera berkumpul dan bersiap akan
berangkat ke puncak gunung lawu. Harga tiker masuk saat itu Rp.7500 dan parkir
motornya Rp.5000.
Sebelum
berangkat kami berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan, dan yang
terpenting bias kembali ke rumah masing-masing dengan selamat. Perjalanan
menuju pos 1 memang yang termudah menurut saya, selain jalannya yang cukup
landai terdapat juga pos-pos bayangan yang cukup banyak. Sebelum sampai di pos
1, kita melewati salah satu mata air minum ( sendang panguripan ). Sendang
panguripan biasanya digunakan para pendaki untuk mengisi persedian air minum
sebelum melanjutkan perjalanan.
Tak terasa
akhirnya kami sampai di pos 1, di pos 1 kami berhenti sejenak untuk memulihkan
tenaga sambil meminum air dari sendang panguripan tadi. Rasanya Coss..pleeng…
air mineral A*** aja kalah sama air sendang panguripan ini. Sambil berteriak “3265”
kami pun melanjutkan perjalanan ke pos 2, perjalanan dari pos 1 sampai k epos 2
memang paling jauh dan lumayan menanjak. Karena 2 orang teman perempuan kami
sudah tidak kuat membawa tas lagi, terpaksa kami pun harus membawa 2 tas secara
bergantian.
Setelah
melangkah lama, teman saya yang berada paling depan berteriak dengan semngat “Alhamdulillah
Pos 2 eii…. Masak, masak…..laper..”, kami pun segera berlari menuju ke pos 2.
Sampai di pos 2 kami langsung mengeluarkan kompor, nesting, dan bahan makanan
(mie instan) untuk masak. Bisa di bayangin aja, saking laparnya mie yang baru
mateng langsung habis padahal sang koki belum makan sama sekali. Akhirnya perut
terisi dan tenggorokan juga sudah nggak kering lagi, kamipun melanjutkan
perjalanan menuju pos 3.
Saat pertama
kali melangkah kami masih semangat dan masih ceria, tapi setelah beberapa
langkah kamipun sudah mulai lelah. Bagaimana tidak jalur ke pos 3 ini sangat
menanjak, sedangkan kami harus membawa carier yang lumayan berat ditambah lagi
tas daypack teman kami yang harus dibawa bergantian. Tak terasa sang fajar
mulai terbenam sekitar jam 18.00 kami sampai di pos 3. Kami langsung bergegas
bertayamum untuk menunaikan shalat magrib. Tapi salah satu dari teman kami
merasa sangat kedinginan, dengan cepat kami pun langsung mengeluarkan kompor
untuk memasakkan air hangat untuk menghangatkan badannya.
Hari
beranjak malam, kami segera melanjutkan perjalanan k epos 4. Baru beberapa
meter melangkah teman kami yang paling belakang berteriak “break”, mungkin
karena kurang latihan fisik makanya dia tidak begitu kuat untuk jalan terus.
Melangkah dan terus melangkah kita akhirnya sampai di pos 4, di pos 4 ini tidak
ada bangunan seperti pos-pos sebelumnya hanya ada plat yang bertuliskan “POS 4”
saja. Teman perempuan saya mengajak untuk ngecamp di pos 4 karena kecapekan,
tapi persediaan air tinggal sedikit kami pun melanjutkan perjalanan menuju
sendang drajat.
Sekitar jam
22.00 malam kami sampai di sendang drajat, teman saya langsung mengetuk warung
dan memesan makanan. Sedangkan saya dan teman laki-laki lainnya mendirikan
tenda untuk tidur.
BERSAMBUNG











